Sepotong Bika Ambon di Bandara

Aku tidak terlalu suka bandara. Tapi mungkin hal itu akan berubah jika aku melihat sepotong Bika Ambon.

---

Selain di sunat hal yang sangat menegangkan dalam hidup yang pernah ku alami adalah naik pesawat untuk yang pertama kali. Mungkin sangat berlebihan bagi orang – orang yang udah biasa tapi ini nggak biasa bagi ku sebab jangankan pesawat, di kampung ku taksi saja di sembah apa lagi pesawat. Biasanya pada teriak 'minta duit' kalau ada pesawat lewat.

Waktu itu aku memang harus mau nggak mau menggunakan pesawat di karenakan aku harus sudah tiba di bandung pada hari senin untuk mengikuti ospek kampus. Karena info itu baru ku dapat ketika pada jum’at soreh dan itu membuat ku kelabakan sendiri. Untuk pertama kalinya aku pergi jauh dengan pesawat pula.

Aku memilih bandara Polonia Medan karena itulah satu – satunya bandara terdekat dari kota ku yaitu kota langsa. aku di antar bos ku. Kebetulan saat itu aku sedang bekerja di salah satu tempat reparasi komputer. Dan Karena aku numpang, bersama keluarga yang mereka tujuannya adalah jalan – jalan maka aku nurut aja sesuai jadwal bepergian mereka. Dan jadinya aku harus datang kebandar lebih cepat dua jam dari jadwal penerbangan.

Dan waktu itulah pertama kalinya aku melihat sebuah kesibukan bandara. Padahal aku membayangkan akan banyak tangis haru biru perpisahan dan ciuman seperi film yang pernah aku tonton di fil AADC. Dan padahal saat itu aku sangat berharap adegan itu berlangsung dengan pacar ku yang sekarang udah jadi mantan. Dan dia tidak ikut mengantar ku saat itu yang ada adalah aku cari tiang listrik untuk di peluk. Tapi faktanya tidak seperti itu, film memang telah menghipnotisku. Tidak ada haru biru, tidak ada air mata yang ada hanya orang – orang yang keberatan dengan bawaannya yang alakajam. Dari koper hingga kardus – kardus. Aku rasa jika kasur bisa di lipat ada kemungkinan mereka pada bawa kasur.

Aku inget banget saat itu adalah hari ulang tahu ku yang ke sembilan belas, di tanggal 10 bulan 9 tahun 2011. Waktu itu aku memakai switer abu – abu, jeans biru dan hanya membawa satu ransel. Setelah cek-in lalu aku diarahkan oleh seorang lelaki teman dari istri bos ku. Tinggih, putih, wangi, ganteng, waktu itu mungkin kalau aku cewek udah naksir berat sayangnya aku juga cowok sama kaya dia. Katanya cukup dengarkan saja pengumumannya ‘jika no penerbangan yang ada di tiket ku di ucapkan maka mulailah aku masuk pintu di sebelah sana’ dia menunjuk pintu yang di atasnya bertulisan gate. Lalu dia pamitan dan tinggallah aku sendiri di landa sepi.

Satu jam berlalu aku mulai bosan dan perutku mulai ada konser. Aku baru ingat terakhir kali aku makan adalah saat pagi tadi itupun cuma sepiring lontong. Penerbangan pertama ini sangat menyita pikiran ku hingga grogi ku di atas rata – rata. Aku melihat jam yang terterah di tiket dan tak mungkin aku keluar untuk cari makanan. Aku memilih untuk diam sedangkan sangking udik dan penurutnya, aku mengingat pesn bos ku “jangan makan di bandara mahal” pesannya. Dan itulah kenapa aku memilih menahan lapar.

Dua jam berlalu aku memilih untuk membaca buku yang aku bawa dari rumah. Udah entah yang keberapa kali ku baca sangking seringnya tu buku komedi jadi buko horror. Udah ilang lucunya.

Tiga puluh menit berlalu dan aku belum makan apapun hanya minum air mineral. Buku komedi tak lagi mengobati perut ku. Dalam hati ku 'mending sendirian di tengah hutan dari pada di tempat seramai bandara tapi ngerasa sendirian'. Nggak lama setelah itu seorang ibu – ibu duduk di samping kursi tempatku duduk dan di sebelahnya seorang wanita muda. Mereka akrab seperti kakak beradik dan warna baju mereka juga sama yaitu hitam. Karena tidak ada hal yang lain yang bsa ku lakukan mengupinglah satu – satunya cara mengurangi rasa laparku.

Mereka saling Tanya mau kemana, dengan siapa dan semalam berbuat apa, yolanda.. kok jadi nyanyi. Dan nggak lama setelah ngupingku berlangsung seorang gadis datang dengan kopernya duduk di depanku kira – kira arah jam sepuluh dari hadapan ku. Dia memakai pakaian yang sangat sopan dengan jilbab warna abu – abu. Aku ingat sekali waktu itu matanya sangat ramah menatap dan memperhatikan ku ( mungkin hanya perasaan ku tapi sepertinya benar) dan aku membalasnya dengan senyum.
“no berpa ?” tanyanya. Aku bingung dengan pertanyaannya nomor berapa ? apa maksudnya ukuran sepatu, ukuran apa ?
“itu..” ia menunjuk tiket ku.
“nomor penerbangan ?” Tanya ku meyakinkan pertanyaannya.
“iya..” jawabnya dengan senyum. Lalu ia duduk tepat arah jam dua belas dari hadapan ku. Aku jadi kikuk. Dan aku yang parno karena efek nonton berita di tivi. aku waspada. Jangan – jangan ini adalah modus kejahatan. tapi aku dengan sekuat tenaga menjaga kesopanan dengan menyebutkan nomor penerbanganku. Tidak di sangka ia malah semangkin terlihat ramah ketika tahu no penerbangan kami sama. Dan dalam hati akhirnya aku dapat temen ngobrol juga selama berjam – jam seperti seniman patung.

Tidak butuh waktu lama kami akrab aku tahu nama dia adalah Hanum dia tahu nama ku. Aku tahu dia dari Jakarta ke Medan untuk berlibur di rumah pamannya dan sekarang ia akan balik ke Jakarta untuk kembali melakukan rutinitas perkuliahannya.

Banyak hal yang kami ceritakan bersama kami sudah seperti teman lama dan aku juga heran kenapa bisa padahal dia cewek kenapa nggak takut melihat ku. Atau mungkin dia tahu aku orang kampung yang baru pertama kali naik pesawat. Mungkin dia prihatin dan kasihan atau mungkin aku dimatanya seperti mahluk langkah yang perlu di lindungi.

Aku hampir lupa kalau aku belum makan sedari siang dan wktu udah mau magrib dan pesawat belum juga datang sebab delay sudah lebih dari dua jam. Mungkin pesawatnya tahu aka nada orang kampung yang naik jadi ia enggan datang. Tapi bukan itu yang waktu itu aku kawatirkan karena kekawatiranku dengan pesawat udah hilang lantaran nunggu lamanya delay. Sampai – sampai penumpang yang sama dengan ku sudah pada ngumpul di gate yang nantinya pintu keluar menuju pesawat  mereka slaing adu argument, marah – marah, berkoar – koar. Gemana nggak udah tiga jam menunggu dan tanpa kejelasan itu sangat menyakitkan. Rasanya waktu itu aku ngerti apa yang ada di perasaan mereka yang juga diperasaan ku yaitu di PHP-in.
“udah makan ? “ tanya hanum.
“belum sih .. “
“dari tadi siang ?” dia meliat ku dengan tatapan prihatin persis ngelihat pengemis. Aku cuma bisa nyengir. Lalu dia membuka tas sampingnya mengeluarkan sebuah kotak lalu ia buka, memperlihatkan isinya padaku “ ini ambil untuk isi perut “ sebuah bikang abon yang masih utuh belum di potong sama sekali.
“nggak usah. Nggak papa kok.itukan untuk yang di jakarta” aku ngeles padahal memang laper banget waktu itu.
“nggak papa ambil aja, dari pada laper. Makanan disini mahal. Yang di jakartakan bisa kapan – kapan. Lagian pasti nggak habis”.
Aku memilih tidak menerimanya sebab sebelumnya ia sudah cerita tentang keluarganya yang suka bikang ambon dan kebetulan banget setelah itu selang beberapa menit kami penumpang yang sedang delay pesawatnya mendapat nasi kotak dan kue. Akhirnya perutku terobati dengan sempurna.

Nggak lama setelah kami makan pesawat datang. Kami siap – siap. Dan di situlah kami terpisah karena kursi kami berjauhan. Aku turun dari pesawat dan buru – buru mencari travel untuk berangkat kebandung. Dan dia belum keluar setelah aku tunggu sebab barangnya banyak. Padahal sebelumnya ia sudah menawarkan tumpangan untuk menuju ke terminal jika nanti tidak ada lagi travel yang berangkat ke bandung. Dan dia juga menelpone ku ketika kami baru turun dari pesawat. Tapi aku terlalu buru – buru itulah penyesalan ku tidak berterima kasih secara langsung padanya.

Hamum dan sepotong Bika ambon mengingatkan ku tentang pentingnya berbagi meski diri kita membutuhkannya dan padahal orang yang kita sayang yang membutuhkan. Tapi Hanum malah memberikan bika ambon itu pada orang asing yang baru ia kenal yang belum tahu apakah orang asing itu peduli pada dirinya. 

Begitulah.. kadang orang asing membuat kita lebih nyaman dari pada orang yang setiap hari berada di samping kita. dan kadang sebaliknya. Tapi bukan itu yang seharusnya menjadi pembeda antara orang asing dan orang dekat kita. Melainkan seberapa asing orang lain, orang yang baru kita kenal mereka tetaplah seperti kita yang kadang ingin juga menyapa tapi malu atau yang lain. Dan seberapa dekat orang yang selalu bersama kita mereka teap mempunyai apa yang mereka rahasiakan dan jangan pernah menjauhkan diri pada orang yang sudah dekat dengan kita. Dan jangan mengasingkan orang asing. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diagram Use Case Dan Use Case Description

Beberapa Website Keren Yang bisa Bikin Kita Cerdas

Apa itu SKPL Dan Kebutuhan Perangkat Lunak ?